No open-access location is known for this record yet.
No open-access location is known for this record yet.
Perubahan bagi bahasa yang hidup merupakan keniscayaan. Arah perubahan itu \nada dua, yaitu bahasa itu mengalami penguatan yang berarti makin berkembang \nmenjadi banyak dialek. Arah yang lainnya ialah bahasa itu mengalami pelemahan yang \nberarti makin berkurang jumlah penuturnya sampai akhirnya punah, baik dengan \nmaupun tanpa jejak. \nBahasa daerah dapat terus hidup dan berkembang bukan dengan \nmemperbanyak kegiatan kongres, melainkan dengan menjadikannya berprestise. Agar \nbahasa daerah ini berprestise dan dipandang berharga oleh penuturnya sendiri, \nbeberapa usaha perlu dilakukan. Pertama, keluarga-keluarga didorong untuk tetap \nberusaha menjadikan bahasa daerah itu sebagai bahasa pertama bagi anak-anak. \nKedua, bahasa dan budaya daerah dijadikan mata pelajaran muatan lokal sejak sekolah \ndasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas. Ketiga, bukan hanya sosialisasi penggunaan \naksara Lontara untuk menuliskan nama jalan dan gedung, melainkan juga menggali dan \nmengungkap ungkapan-ungkapan bahasa daerah sebagai nama gedung-gedung dan \nfasilitas-fasilitas modern yang ada. Keempat, pelembagaan nilai-nilai budaya utama \nperlu digalakkan melalui ungkapan-ungkapan dan pepatah-pepatah serta seni budaya \ntradisional lainnya. Kelima, perlu digalakkan usaha pembudayaan diri dalam nilai-nilai \nbudaya yang menjadikan generasi penerus tetap memiliki identitas karakter sebagai, \nmisalnya orang Bugis. Keenam, perlu dihidupkan usaha penggunaan bahasa daerah \nformal pada upacara-upacara adat-istiadat, misalnya prosesi pernikahan.
Loading…
Stored only when both papers are in the corpus — 9 citations exist upstream.
Imported from OpenAlex (CC0) — nothing here is generated.