No open-access location is known for this record yet.
No open-access location is known for this record yet.
Berdasarkan aspek kewilayahan, rasial, dan budaya, masyarakat Melayu mendiami gugusan kepulauan di Asia Tenggara, yang mencakup berbagai negara seperti: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, bahkan diasporanya sampai ke Madagaskar, Suriname, dan kepulauan Oseania (Makronesia, Mikronesia, dan Polinesia). Selain aspek ras, mereka juga memiliki kesamaan di bidang bahasa dan kesenian. Mereka selalu dikategorikan sebagai rumpun Melayu. Namun demikian makna Melayu juga kadang disublimasikan sebagai ras Melayu yang beragama Islam, berbahasa Melayu, dan memakai budaya Melayu. Makna ini muncul setelah abad ketiga belas, ketika Islam menjadi teras utama dalam masyarakat Melayu di Asia Tenggara. Makna yang demikian, bukan berarti inklusif, tidak menghargai perbedaan. Justru dalam Islam diakui perbedaan, yang diatur secara bermartabat dan adil. Tulisan ini akan mengkaji aspek seni pertunjukan dalam Dunia Melayu, terutama di Semenanjung (Malaysia) dan Sumatera (Indonesia), dan juga terhadap mereka yang mengaku sebagai orang Melayu dan diakui sebagai orang Melayu dan pendukung budaya Melayu 1. Pendahuluan Berdasarkan aspek kewilayahan, rasial, dan budaya, masyarakat Melayu mendiami gugusan kepulauan di Asia Tenggara, yang mencakup berbagai negara seperti: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, bahkan diasporanya sampai ke Madagaskar, Suriname, dan kepulauan Oceania (Makronesia, Mikronesia, dan Polinesia). Selain aspek ras, mereka juga memiliki kesamaan di bidang bahasa dan kesenian. Mereka selalu dikategorikan sebagai rumpun Melayu. Namun demikian makna Melayu juga kadang disublimasikan sebagai ras Melayu yang beragama Islam, berbahasa Melayu, dan memakai budaya Melayu. Makna ini muncul setelah abad ketiga belas, ketika Islam menjadi teras utama dalam masyarakat Melayu di Asia Tenggara. Makna yang demikian, bukan berarti inklusif, tidak menghargai perbedaan. Justru dalam Islam diakui perbedaan, yang diatur secara bermartabat dan adil. Tulisan ini akan mengkaji aspek seni pertunjukan dalam Dunia Melayu, terutama di Semenanjung (Malaysia) dan Sumatera (Indonesia), dan juga terhadap mereka yang mengaku sebagai orang Melayu dan diakui sebagai orang Melayu dan pendukung budaya Melayu. Masyarakat Melayu adalah masyarakat yang dinamis, yang menjujung tinggi nilai-nilai universal, kebenaran, keadilan, dan menghormati perbedaan. Masyarakat Melayu sejak mula telah menggunakan empat konsep stratifikasi adat: (1) adat yang sebenar adat, (2) adat yang teradat, (3) adat yang diadatkan, dan (4) adat-istiadat. Butir pertama adalah hukum alam menurut kewajaran yang ditakdirkan oleh Allah, butir kedua berkaitan dengan sistem kepemimpinan, butir ketiga berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan yang kemudian menjadi bagian dari adat, dan butir keempat berkenaan dengan aktivitas-aktivitas upacara. Keempat stratifikasi adat Melayu ini, kemudian wajib berasas kepada syariat Islam, demikian pula penerapannya dalam seni pertunjukan. Dalam makalah ini yang dimaksud dengan seni pertunjukan adalah mencakup bidangbidang seni: musik, tari, teater, atau yang berkaitan dengannya seperti upacara tradisional (adat istiadat), perarakan berbagai kepentingan, media massa seperti televisi, radio, internet, dan lainnya. Sementara secara saintifik, pengkajian seni pertunjukan (performing art study) adalah disiplin ilmu yang relatif baru, yang dalam teori dan metodologinya menggunakan pendekatan multidisiplin dan interdisiplin untuk sampai ke tahap general dan mendalam dalam mengaji seni pertunjukan (terutama musik, tari, dan teater), walau adakalanya kajian ini meluas sampai kepada kajian terhadap sukan, sirkus, silap mata, upacara, dan lainnya. Dalam konteks budaya masyarakat Dunia Melayu sendiri, jarang ditemukan pemisahan secara absolut antara musik, tari, dan teater. Ketiga-tiga bidang ini selalu berjalan seiring dan selaras. Misalnya genre seni zapin,
Loading…
Stored only when both papers are in the corpus — 6 citations exist upstream.
Papers that cite the same references — the relational fallback while embeddings are still backfilling.
Imported from OpenAlex (CC0) — nothing here is generated.